
Beberapa
kali mungkin kita terjebak dalam debat. Kadang malah terlihat tak
berujung. Akhirnya malah terjadi saling tuding, saling hina, bahkan tak
jarang kata-kata kasar terlontar. Baru saja, sebelum menuliskan catatan
singkat ini, saya membaca tulisan seorang saudara di akun twitternya.
Darinya, ada beberapa hal yang perlu disampaikan di sini terkait
sikap seorang da’i dalam menghadapi orang-orang munafiq. Allah
berfirman,
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”. (QS al A’raaf 199)
Mengomentari ayat ini, Sayyid Quthb, dalam Zhilal, berkata, ” Inilah
arahan-arahan rabbaniyah di dalam menghadapi kejahiliyahan yang sangat
buruk, di dalam menghadapi kemanusiaan yang tersesat. Arahan rabbani
menyeru da’i untuk berlapang dada dan toleran. Juga supaya menyampaikan
perintah dengan jelas untuk melakukan kebaikan yang sudah dikenal oleh
fitrah manusia dengan lapang dengan tidak mempersulit dan tidak
memperberat. Juga supaya ia berpaling dari tindak kejahiliyahan, dengan
tidak menjatuhkan hukuman pada mereka, tidak mengajaknya/melayaninya
berdebat, dan tidak ikut bersama-sama mereka”, ujarnya.
Apabila mereka melampaui batas dan menimbulkan kebencian dengan keras
kepala dan menghalang-halangi, dan setan mengembuskan kebencian itu,
maka hendaklah seorang da’i memohon perlindungan pada Allah agar hatinya
tenang, tenteram, dan bersabar.
Sementara itu, Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, berkata, Diriwayatkan dari
Ibnu Abbas dan dia menceritakan sebuah kisah mengenai Umar ketika salah
satu tamunya membuatnya marah. Maka al Hur bin Qais berkata padanya,
“Yaa amiral mu’minin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman pada nabi,
‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah dengan ma’ruf serta berpalinglah
dari orang-orang bodoh’.”
Ibnu Jarir berkata bahwa sesungguhnya nabi telah memerintahkan agar
dia menyuruh pada yang ma’ruf pada hamba-hambanya. Termasuk dalam yang
ma’ruf itu adalah segala ketaatan, dan menyuruh berpaling dari
orang-orang yang bodoh…
Mari tetap bersikap dingin menghadapi orang-orang munafiq. Sebab,
Allah berkata bahwa memang seperti itulah tabiat mereka. Mereka akan
tetap bersikap seperti itu hingga mereka mau mengubah apa yang ada dalam
dirinya, yang kemudian berakibat pada turun tangannya Allah dalam
mengubah hatinya, dalam mengubah sikapnya.
“Dan jika dikatakan pada mereka, “Marilah (kembali) pada apa yang
diturunkan oleh Allah dan kepada rasulnya.” kamu pasti akan melihat
orang2 munafiq itu menghalang2i kamu dengan keras”. (QS an Nisaa’ 61)
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada dalam qaum itu, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka”. (QS ar Ra’d 13)
Menghadapi mereka, Allah memerintahkan kita untuk memberikan “qaulan baliigha” pada mereka.
“Mereka itu adalah orang2 yang Allah mengetahui apa yang ada
dalam hati mereka. Krn itu, berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah
mereka pelajaran, dan katakanlah pada diri mereka qaulan baliigha
(perkataan yang membekas)”. (QS an Nisaa’ 63)
Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan qaulan baliigha itu? Untuk
lebih mudahnya, mari kita simak nasihat Syaikh Utsaimin berikut ini.
Beliau, dalam ash Shohwatul Islamiyyah, berkata bahwa bashirah,
khususnya dalam da’wah itu ada tiga: pertama, bashirah ‘alaa ilmi.
Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah.
Yang pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Pengetahuan atau penguasaan atas
ilmu. Yang ini jelas merupakan syarat da’wah pertama. Tidak perlu saya
jelaskan lagi lebih jauh. Sebab apa lagi yang akan dijelaskan oleh
seorang da’i selain ilmu mengenai Islam? Bukankah mereka yang tak
memiliki sesuatu tak dapat memberikan sesuatu?
Mengenai hal ini, Syaikh Utsaimin berkata, Sebagian orang menghukumi
sebagian perkara yang bukan merupakan kewajiban sebagai perkara yang
wajib; dibangun dengan ijtihad yang keliru, ta’wil, dan syubhat yang
tiada dasarnya. Apalagi menjadikan hal tersebut sebagai tolok ukur wala’
dan bara’! Apabila ia menjumpai seseorang yang berbeda pendapat
dengannya, ia benci dan marah dengannya. Padahal pendapatnya sendiri
telah menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Namun, apabila pendapat
seseorang sesuai dengan pendapatnya, ia pun mencintainya.
Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Pengetahuan atas objek da’wah. Hal ini
dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk berda’wah di Yaman. Saat itu,
beliau bersabda, Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli
kitab. (Muttafaqun ‘alaih)
Kata-kata ini tentu bukan tanpa maksud. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam menginginkan kita mengetahui objek da’wah sebelum
berda’wah padanya. Kita patut mengetahui tingkat ilmunya, kemampuannya
dalam diskusi maupun debat, dan sebagainya, supaya kita kemudian mampu
mengambil hatinya dan mengajaknya pada Islam. Asy Syaikh kemudian
mengutip sebuah hadis berikut, Sesungguhnya kalian akan saling
mengalahkan di hadapanku, dan sebagian kalian lebih cerdas dalam
mengemukakan pendapat daripada sebagian yang lain. Maka aku memutuskan
perkara berdasarkan apa yang kudengar. Barangsiapa yang mengajukan
perkara demi mengambil hak saudaranya, janganlah diambil. Sesungguhnya
barangsiapa yang berhenti dari hal itu, terputuslah api neraka baginya.
(Muttafaqun ‘alaih)
Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah. Pengetahuan atas da’wah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Kami diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal mereka masing-masing”. (HR. Muslim).
Ini penting, sebab tidak semua manusia memiliki standar yang sama
dalam menilai perkataan orang lain. Bisa jadi, karena kita membaca al
Quran dan mendapati nabi Ibrahim yang merupakan khalilullah itu sampai
menyebut ummatnya sesat dengan perkataan yang jelas itu (QS 21:54),
lantas kita berbuat hal yang sama.
Perlu kita perhatikan kultur masyarakat yang berkembang. Jelas
berbeda kultur masyarakat nabi Ibrahim dengan kultur masyarakat kita,
meski model ma’shiyatnya sama saja. Sama-sama kesyirikan yang jadi
masalah. Jelas berbeda kultur masyarakat Arab zaman Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam dengan budaya masyarakat Indonesia saat ini. Dahulu,
ada sebuah qabilah yang nyaman saja disebut “bani kalb”. Tapi tentu itu
tak tepat bila sebutan itu disematkan—dengan alasan apa pun—pada
penduduk Indonesia. Dahulu ada sahabat yang lazim dipanggil Abu
Hurairah. Tak pas pula rasanya bila panggilan ini diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia kemudian kita sematkan pada tetangga kita yang menyukai
kucing.
Untuk itu, Rasul kemudian memerintahkan kita untuk berbicara—dalam
rangka berda’wah, tentu—menurut kadar akal objek da’wah. Semata supaya
pesan da’wah ini tak tertinggal. Supaya maksud besarnya tak terpotong.
Ada sebuah kekhawatiran dari dalam diri saya melihat da’i yang
mengabaikan rambu-rambu ini: akan ada perdebatan-perdebatan tak
berkualitas yang secara perlahan tapi pasti akan menurunkan izzah para
da’i di mata mad’unya. Akibatnya, belum satu kalimat terlontar dari
lisan kita, keengganan mereka sudah muncul terlebih dahulu. Jadilah niat
kita untuk berda’wah tak terlaksana.
Syariat ini perlu disampaikan. Salah satu wasilahnya adalah dengan
cara beradu argumen (QS 16:125). Berdebat, dengan kata lain. Di sisi
lain, kita mudah menjumpai ayat maupun hadis yang berisi anjuran untuk
meninggalkan debat. Apalagi bila debat itu mempertanyakan hukum atau
syariat Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa
alasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan
hanyalah kebesaran mereka sekali-sekali tidak akan mencapainya. Maka
mintalah perlindungan pada Allah. Sesungguhnya Ia maha mendengar lagi
maha melihat. (QS al Mu’min 56)
Namun, sekali lagi, penguasaan kita terhadap medan da’wah diuji di
sini, di mana kita harus menempatkan diri kita di posisi pertengahan.
Lembut dalam berda’wah memang dianjurkan. Tapi jelas tidak untuk setiap
saat dan tempat. Serupa debat Ibrahim ‘alaihissalam muda dengan Namrudz.
Atau seperti argumen-argumen Musa ‘alaihissalam di hadapan Fir’aun.
“
Janganlah kamu mengikuti orang2 yang mendustakan ayat2 Allah.
Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap
lunak (juga) padamu”. (QS al Qalam 8-9)