Pages

Friday, 2 October 2015

Pemerintah Berlakukan SNI Kopi Instan 2016


Jakarta | Jurnal Asia
Pemerintah akan mem­berlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kopi instan mulai Januari 2016, mundur dari rencana awal Juli 2015 karena beberapa persiapan belum rampung.
“Karena balai untuk pe­ngujiannya belum siap, per­alatannya juga perlu waktu,” kata Direktur Minuman dan Tembakau Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Faiz Ahmad di Jakarta, Kamis.
Selain itu, Faiz menambah­kan, pemberlakuan SNI tersebut diundur karena beberapa produk kopi olahan sudah beredar dan membutuhkan waktu satu tahun untuk habis di pasaran.
Dia mengatakan pemerintah memberlakukan SNI wajib un­tuk kopi instan karena banyak kopi instan impor berkualitas rendah, bahkan beberapa produk dicampur dengan kulit kopi, di pasaran.
“Makanya kami harus lindungi konsumen dalam negeri. Jadi, untuk kopi instan yang impor harus SNI wajib. Artinya pemberlakuan yang adil baik dalam negeri dan ekspor,” kata Faiz.
Beleid yang tertuang dalam perubahan atas peraturan Men­teri Perindustrian No. 87/2014 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Kopi Instan Secara Wajib menyebutkan bahwa SNI tersebut wajib dite­rapkan mulai 17 Januari 2016.
Pada peraturan terdahulu yang terbit 17 Oktober 2014, produk dengan nomor pos tarif 2101.11.10.00 itu wajib memenuhi SNI mulai 17 Juli 2015. Kopi instan adalah produk kopi ber­bentuk serbuk atau granula atau serpih kopi yang dihasilkan dari proses penyangraian biji kopi tanpa campuran bahan lain dilanjutkan dengan penggilingan, ekstraksi, dan pengeringan. (ant)
- See more at: http://www.jurnalasia.com/2015/10/02/pemerintah-berlakukan-sni-kopi-instan-2016/#sthash.YWGrqomB.dpuf

Monday, 28 September 2015

Cowok ‘haram’ minta maaf karena 5 hal ini

Brilio.net - Kata maaf memang selalu menjadi obat dalam setiap hubungan ketika ada masalah. Selain itu, pengakuan kesalahan dan juga minta maaf merupakan bukti bahwa kamu serius untuk mempertahankan hubungan. 

Akan tetapi, ada kalanya kamu harus membiarkan hal tersebut tanpa harus meminta maaf, terutama buat cowok. Itulah mengapa Kaum Hawa ‘haram’ untuk meminta maaf karena hal sebagai berikut sebagaimana dikutip oleh brilio.net dari Boldsky, Senin (28/9). 

1. Tidak mengungkapkan emosi sepenuhnya
Terkadang cewek memang menuntut agar kamu lebih peka dengan mengungkapkan emosi lewat tubuhmu. Selain itu, sikapmu yang datar-datar saja membuat si cewek tidak percaya dengan apa yang kamu lakukan. Jika kamu memang perlu menyembunyikan emosimu, hal ini tidak masalah. Jangan pernah meminta maaf karena kamu melakukan hal ini. Tetapi ingat ya, tidak semuanya harus disembunyikan. 

2. Berbicara lebih pendek ketika di telepon
Memang sangat beda sekali gaya bicara antara face to face dengan by phone. Jika kamu sering berbicara singkat di telepon, hal ini tidak masalah. Meskipun banyak cewek yang sering komplain dengan hal ini. Jadi, tidak perlu mempermasalahkannya jika kamu memang mempunyai kebiasaan seperti ini. 

3. Mengatakan tidak, tidak, dan tidak
Keputusan seperti ini gampang untuk menyulut pertengkaran baru. Akan tetapi, kamu tidak perlu meminta maaf karena telah melakukannya. Sebagai pasangannya, kamu harus memberikan gambaran tentang prinsip yang memang tidak boleh dilanggar. Itulah mengapa hal ini sangat oke jika kamu sering tidak setuju. 

4. Meet up dengan geng cowok
Meskipun sudah mempunyai pasangan, berkumpul dengan geng cowok merupakan hal wajar. Hal ini bisa memberikan sensasi yang berbeda dan membuat kamu lebih akrab dengan mereka seperti dulu. Jika cewekmu sering marah-marah karena hal ini, kamu cukup mendengarkan saja. Kamu tidak perlu untuk meminta maaf, oke?

5. (Selalu) berantakan
Kamu tidak perlu merasa bersalah dan juga meminta maaf karena selalu berantakan. Karena akhirnya kamu akan menyadari kapan harus rapi dan juga biarkan keadaan berantakan. Jika kamu memang nyaman dengan semua itu, kamu tidak perlu repot untuk memikirkannya.

Renungan : Kekuatan Sedekah

Kisah Nyata Lebaran Kemarin: Kekuatan Sedekah - Pagi itu Pak Guru lg diem dirumah sambil nungguin istrinya mau bikin kue buat lebaran, niatnya sih mau ngebantu. Tapi keburu ada tamu yang bawa 3 ekor bebek . Tamu tersebut ternyata berniat menjual bebeknya ke Pak Guru. Pak Guru juga gak begitu kenal sama si tamu tersebut karena emang baru ketemu saat itu juga.


"Assalamualaikum Pak, Saya mau menjual bebek saya". Kata orang tersebut.
"Wah, bebeknya bagus-bagus, berapaan harganya mang, jangan mahal-mahal". Kata Pak Guru, memang sehari sebelumnya saya dan beliau lagi membicarakan bakar bebek, kayaknya enak banget buka puasa sama bebek bakar.
"35 ribu saja pak per ekornya" Katanya lagi.
"Wah kemahalan Pak, 25 saja gimana? Itu bebeknya masih belum besar ko udah mau dijual, emang buat apa Mang??" tanya Pak Guru.
"Anak saya nangis pak pengen Baju lebaran, jadi mau gak mau saya jual saja buat beli baju lebaran". Tukang bebek itu sambil tersenyum.
Pak Guru teringat anaknya kemarin yang minta 500 rebu buat beli Baju lebaran dan langsung dikasihnya seolah uang tersebut bernilai biasa saja, 1 anak 500 rebu, belum kakaknya yang pengen agak gede haha, pokoknya kebayang lah seorang ayah kalau mendekati lebaran.
Pak Guru juga merasa sedih dan iba liat si Bapak penjual bebek yang juga pengen membelikan anaknya baju lebaran. Dia juga mengerti dan Faham keinginan seorang Ayah untuk menyenangkan anak-anaknya, apalagi dihari Raya Lebaran. Susahnya jadi ayah dengan gaji pas-pasan seorang guru, truz anak-anaknya kekeuh pengen baju lebaran. Kebayang kan? hehe.
"Udah mang, simpen Saja bebeknya, ayuk ikut sama Saya Naek Mobil". Kata Pak Guru sambil menuju Mobilnya.
"Kemana Pak?" Tanya si Bapak Penjual Bebek.
"Katanya Mau beli Baju lebaran buat anaknya? Ayok mumpung masih pagi, kita ke Cimahi belanja baju buat anaknya". Ajak Pak Guru semangat.
"Tapi bebek saya mau di beli pak?". Si tukang bebek Bingung.
"Gak usah dipikirin, bebeknya nanti bawa pulang aja buat lebaran. sekarang kita jalan-jalan beli baju lebaran buat anaknya".
Subhanalloh dan Luar biasanya si Pak Guru ini, dia dengan ikhlas mengajak si penjual bebek ke Mall dan dibelikannya baju lebaran untuk diberikan kepada anak-anaknya. uang yang dihabiskan memang tak seberapa, sekitar Rp.500 rebuan lah. Tapi bagi si tukang bebek itu jika 1 bebek dijual 35 rebu, maka 3 bebek sama dengan Rp.105000. Uang segitu mungkin hanya cukup untuk baju 1 anak saja. Bagaimana dengan hidangan Lebaran nanti yang biasanya ditetangga-tetangga suka tersedia daging?
Zaman sekarang masih ada orang yang rela dan Ikhlas seperti yang dilakukan oleh si Pak Guru itu. Ucapan syukur dan terimakasih tak henti-hentinya dilontarkan oleh si penjual bebek itu.
Dan lebaranpun tiba. Seluruh umat islam merayakan hari kemenangan tersebut karena telah sebulan penuh berpuasa. Kegembiraan terpancar dari setiap insan yang merayakan hari besar Umat Islam tersebut.
Pak guru juga tentunya merasa senang. Dia hanya bisa membayangkan kegembiraan yang dialami oleh si penjual bebek kemarin, coz keberadaannya juga tidak diketahui.
Entah dari mana asalnya, tiba-tiba ada secuil amplop yang ditujukan untuk Pak Guru di meja tamu. dan luar biasanya didalamnya terdapat uang yang jumlahnya lebih dari 2 juta rupiah. Ini adalah berkah dari kekuatan sedekah. Pak Guru yang bersedekah tanpa mengharapkan imbalan apapun dan ikhlas yang mungkin keluar uang kurang dari 500 ribu kini mendapatkan balasan langsung dengan uang yang berlipat.
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah diatas adalah, jangan sungkan untuk bersedekah, jangan hiraukan seberapa besar sedekah yang bisa kita berikan dan yang terpenting Ikhlas karena Allh Ta'ala. InsyaAlloh , Allah SWT akan memberikan gantinya jauh lebih besar dari sedekah yang kita keluarkan.

Klinik Bisnis: 9 Langkah Membuat Rencana yang Powerful

Klinik BisnisTanpa perencanaan yang matang dan detail, apa pun tindakan anda bisa menjadi sia-sia. Membuat perencanaan membantu anda untuk tetap berada di jalurnya dan sesuai rencana yg dibuat. Jadi tuliskan dengan detail dan terukur rencana anda dengan 9 Langkah Membuat Rencana yang powerful berikut ini:
1. Tuliskan apa yang ingin anda capai sebagai goals. 
Dengan menuliskan goals akan semakin jelas arah dan tujuannya. Tuliskan goals anda seperti ini: Kita akan melakukan…..Kita akan meraih…..Nah catat setiap goals di Papan Tulis dan catatan pribadi anda,
2. Kembangkan daftar tindakan pada Goals Anda. 
Nah disini dibutuhkan sedikit effort untuk membuat detail tindakan. Buat daftar tindakan langkah demi langkah dari tiap goals-nya.
3. Buat Jadwal Pelaksanaan.
Disini anda membuat timeline dari tindakan-tindakan yang sudah ditulis pada langkah ke-2, tuliskan secara spesifik: tanggal mulai dan tanggal selesai untuk nanti dapat kita kontrol.
4. Mempersiapkan Sumber Daya Pendukung.
Untuk bisa mencapai goals dan menjalankannya dalam tindakan maka diperlukan sumber daya seperti: finansial, alat, dan sumber daya manusia. Jika sumber daya terbatas maka kita dapat melakukan revisi tindakan sesuai dengan sumber daya yang kita miliki.
5. Identifikasi Permasalahan yang Mungkin Timbul.
Ini adalah langkah antisipasi. Fikirkan secara detail perkiraan masalah apa saja yang mungkin timbul pada saat pelaksanaan, lalu persiapkan solusinya.
6. Buat Strategi Untuk Bisa Memonitor Progress.
Banyak orang mampu membuat perencanaan namun sedikit yang bisa sempurna dalam melaksanakan. Ada baiknya kita memiliki mekanisme kontrol dalam memonitor pelaksanaan. Bisa dengan menyewa seorang executive coach, membuat divisi yang khusus memantau atau dengan mengadakan evaluasi rutin dengan semua anggota tim.
7. Tunjuk Pelaksana.
Untuk tugas-tugas yang sudah dibuat tunjuk penanggungjawabnya. Beri rambu-rambu dan ukuran yang harus dicapai, lakukan test dan ukur.
8. Estimasi Biaya.
Buat estimasi biaya pada setiap tugas-tugas yang ada, jika dananya tidak mencukupi atau tidak ada maka bisa jadi kita merevisi perencanaan yang sudah dibuat.
9. Implementasikan Rencana
Dengan semua langkah di atas, tuliskan dengan jelas dan sepakati dengan anggota tim untuk bisa berkomitmen menjalankan rencana tersebut.
Nah sederhana bukan? Inshaa Allah dengan mengikuti 9 Langkah Membuat Rencana yang Powerful  tersebut jalan anda menuju sukses di 2014 menjadi lebih lancar. Sukses untuk anda.
Omar
Sumber:
a. Image sources: thingkingfuturer.net
b. Article: BradSugars blog


Teladan dari Kondisi Negara Islam dibawah Kepemimpinan Nabi Muhammad

tauhidOleh : Muhammad Yusron Mufid
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Q.S. Al Ankabut : 2-3)
Sebagai muslim, tentu tidak ada yang patut kita teladani selain peri kehidupan nabi Muhammad S.A.W. dalam segala aspek kehidupan. Tidak hanya dalam hal ritual tetapi dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Seorang ilmuwan barat bernama Michael Hart menempatkan pribadi nabi Muhammad sebagai orang nomor 1 dari daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia mengatakan salah satu alasannya meskipun umat Islam bukanlah pemeluk agama terbanyak di dunia namun pribadi Muhammad bukan hanya sosok pemimpin spiritual, tetapi adalah seorang pemimpin politik dan seorang Negarawan. Meskipun sosoknya telah tiada, akan ada umat Islam yang meneruskan misi perjuangannya hingga hari kiamat tiba.
Menjadikan nabi Muhammad sebagai teladan berarti menjadikan beliau sebagai acuan dalam membangun cara hidup Islam. Jika kita mengamati pelaksanaan Islam dimasa Rasulullah maka kita akan tahu bahwa Islam yang Rasulullah ajarkan bukanlah Islam yang hanya terpusat kepada ibadah ritual saja melainkan adalah sistem hukum efektif yang berlaku di masyarakat. Bangunan Islam awal yang Rasulullah bangun di Madinah ditegakkan dengan pilar adanya masyarakat Islam yaitu warga Madinah, Pemerintahan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah, dan wilayah kekuasaan meskipun di periode awal dalam lingkup yang kecil yaitu wilayah madinah dan sekitarnya. Dengan demikian, pemberlakuan Islam di masa Rasulullah telah memenuhi unsur berdirinya sebuah Negara dengan adanya rakyat, pemerintahan dan wilayah kekuasaan. Sebuah Negara Islam dibawah kepemimpinan langsung Rasulullah Muhammad S.A.W.
Membayangkan Negara Islam di masa nabi pada awal berdirinya bukanlah Negara Islam (Kekhilafahan) pada masa Harun Ar Rasyid yang konon kehidupan pada waktu itu makmur dan kekayaan melimpah. Namun ternyata identik dengan perjuangan dan ketabahan. Ini menjadi pelajaran bagi kita agar orientasi yang dibangun untuk menegakkan Kekhilafahan Islam bukanlah untuk kemakmuran materi dan kemapanan ekonomi belaka tetapi orientasi utama adalah sebagai sarana untuk melaksanakan tauhid, kewajiban menyembah Allah, merealisasikan hukum-hukum dan syariatNya serta mengemban dakwah Islam seantero muka bumi. Disini saya akan bercerita sedikit bahwa para sahabat rela meninggalkan tanah air dan tumpah darahnya ke negeri yang seperti “Neraka” bukan karena sumber daya alam melimpah di negeri tersebut, motif ekonomi dan perut belaka akan tetapi demi ketulusan iman mereka, demi pembuktian cinta kepada Allah dan RasulNya. Mari kita simak.
Dari sisi kesehatan, negeri madinah pernah Allah berikan cobaan kepada penduduknya dengan wabah demam. Demam yang amat menyiksa para penduduknya terutama oleh kaum muhajirin yang memang tak terbiasa dengan cuaca di negeri lain. Seperti yang digambarkan oleh sahabat Am’r bin Ash ia berkata, “Ketika tiba di Madinah banyak dari kami yang meninggal dunia karena demam yang tinggi. Sampai ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar para sahabat sedang shalat sunnah sambil duduk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat sambil duduk pahalanya separuh shalat sambil berdiri.”
Selain itu, Sahabat yang mulia Bilal pernah mendoakan laknat kepada para pembesar Negeri Mekkah yang telah mengusir mereka ke Negeri yang dilanda wabah penyakit yaitu negeri Madinah. Seperti yang dikisahkan Aisyah dalam Shahih Bukhari “Ya Allah laknatlah Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi‟ah dan Umayyah bin Khalaf sebagaimana mereka mengusir kami dari negeri kami ke negeri yang penuh wabah penyakit.”
Bahkan dari sebuah riwayat dari HR Bukhari disebutkan bahwa ada beberapa orang Islam yang kembali murtad karena tidak tahan terhadap wabah penyakit yang sedang melanda negeri Islam tersebut. Berkat Kejadian ini, Rasulullah bersabda bahwa hal ini adalah tabiat negeri Islam madinah yang dengannya akan menjadi proses seleksi siapa hamba-hambaNya yang tulus mencintai Allah dan RasulNya.
“Saya diperintahkan hijrah ke sebuah daerah yang memiliki banyak keutamaan dibanding daerah- daerah yang lain. Orang-orang menamakan tempat itu dengan nama Yatsrib. Itulah yang sekarang bernama Madinah. Ia menyeleksi manusia sebagaimana al-kiir menghilangkan bagian dari besi yang buruk.” (HR Bukhari).
Tak hanya dari sisi kesehatan, pun halnya dari sisi ekonomi. Dalam Shahih Muslim, ada riwayat dari Abu Sa‟id maula Al-Mahri, bahwa ia mendatangi Abu Sa‟id Al-Khudhriy pada malam yang panas. Ia meminta saran kepada Abu Sa‟id Al-Khudhriy akan meninggalkan Madinah dan mengeluhkan harga barang-barang yang mahal, keluarganya yang banyak dan memberi tahunya bahwa ia tidak sabar lagi menanggung kesulitan dan ujian Madinah. Maka Abu Sa‟id Al- Khudhriy menjawab, “Celaka kamu, saya tidak menyuruhmu melakukannya. Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seseorang bersabar menahan rasa lapar di Madinah lalu meninggal dunia melainkan saya akan menjadi penolong (syafii‟) atau saksi (syahiid) baginya kelak pada hari kiamat, jika ia seorang muslim.”
Bahkan diriwayatkan Dalam Shahih Bukhari pada suatu ketika bahwa para tamu mulia di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana seluruh sahabat melihat mereka jatuh tersungkur karena sakit saking laparnya, tidak punya apa-apa. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang yang paling baik terhadap orang-orang miskin adalah Ja‟far bin Abu Thalib. Ia sering mengunjungi kami dan memberikan makanan kepada kami apa saja yang ada di dalam rumahnya. Sampai ia pernah memberikan ukkah (bejana kecil terbuat dari kulit biasanya untuk wadah mentega) yang sudah tidak ada apa- apanya, lalu kami menyobekinya kemudian kami menjilati apa yang tersisa”
Perlu para pembaca ketahui bahwa Ja’far bin Abi Thalib yang diriwayatkan pada cerita diatas baru datang ke Negeri Islam Madinah adalah setelah penaklukkan benteng Khaibar yaitu 7 tahun setelah berdirinya negeri Islam Madinah. Artinya dalam waktu 7 tahun kelaparan masih melanda negeri kaum muslimin.
Bahkan pemimpin Negaranya sendiri, manusia mulia Rasulullah S.A.W tak luput dari deraan rasa lapar yang luar biasa seperti yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim ‘dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Pada sauatu hari saya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya mendapati beliau sedang duduk berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Dan beliau mengikat perutnya dengan sebuah perban. Usamah berkata, “-Saya ragu-ragu- dengan sebuah batu.” Saya bertanya kepada beberapa sahabat, “Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat perutnya?” Mereka menjawab, “Karena lapar.”
Dari sisi keamanan pun Negara Islam dimasa Rasulullah ada dalam kondisi terhimpit dari segala penjuru oleh kepungan musuh-musuhNya, seperti yang diucapkan oleh pemimpin kaum Anshar kepada pengikutnya ketika mereka mempertimbangkan akan melindungi Rasulullah bahwa mereka akan menjadi musuh bersama segenap bangsa Arab. Penuh resiko militer dari penyerbuan mereka. Hingga akhirnya mereka paham dan tetap dengan Ikhlas mebaiat Rasulullah. Pun ketika Rasulullah dan para sahabatnya sudah di Madinah tetap dihantui rasa kecemasan terhadap keamanan hingga Rasulullah selalu membawa senjata di pinggangnya dan para sahabat menjaga Rasulullah di waktu malam.
Demikianlah gambaran singkat Kondisi Daulah Nabawiyah di masa awalnya yang amat memprihatinkan, saya tidak bisa membayangkan akan berapa kali Rakyat Madinah melakukan demonstrasi kepada Rasulullah karena urusan perut dan uang jika pola pikir mereka seperti rakyat sekarang. Ini juga menjadi pelajaran bagi Gerakan Islam yang memiliki cita-cita mulia yaitu tegaknya Kekhilafahan Islam bahwa para sahabat bisa begitu tabah dan sabar menghadapi kondisi yang demikian karena keberhasilan proses penanaman pemahaman (Tarbiyah) dari Rasulullah yang berorientasi kepada tauhid dan akidah Islam. Bukan karena iming-iming ekonomi, penguasaan SDA, BBM Murah, pendidikan terjangkau, bebas pajak, serta kemakmuran materi lainnya. Melainkan pendidikan yang ditanamkan Rasulullah kepada para sahabat adalah tentang tujuan hidup bahwa mereka diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah saja tanpa menyekutukanNya, tunduk kepada hukum-hukum dan syariatNya, mereka hidup untuk menjalani ujian, akan adanya hidup setelah mati serta keyakinan terhadap janji Allah akan menjayakanNya dimuka bumi jika bersabar dalam menjalani ujian dan kesulitan. Pemahaman itulah yang membuat para sahabat begitu tegar menghadapi segala bentuk musibah dan ujian.
Ini juga sebagai kritik kepada mereka yang menyatakan bahwa negara Islam layak berdiri ketika sudah benar-benar mampu melayani kebutuhan masyarakat baik pangan, sandang dan papan. Lalu bagaimana keadaan Negara Islam zaman Rasulullah yg amat memprihatinkan tsb ? Tidak lain bahwa Negara Islam layak berdiri karena kesadaran dan komitmen umatnya untuk menegakkan hukum Allah, menegakkan tauhid dan mencegah kemungkaran dan sekali lagi bukan karena motif perut dan uang.
Melihat pengorbanan para Sahabat, kita tentu patut malu karena banyak mengeluh ketika datang kesulitan dalam ketaatan. Padahal kesulitan yang kita alami belumlah seperti Rasulullah dan para sahabat yang mulia. Wallahua’lam
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar”. (QS. 3:142)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah“. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS 2:214)

*Disarikan dari teks materi ceramah Abu Hamzah Al Muhajir dengan judul Daulah Nabawiyah

Bagaimana Berdebat Dengan Para Munafik

munafik1Beberapa kali mungkin kita terjebak dalam debat. Kadang malah terlihat tak berujung. Akhirnya malah terjadi saling tuding, saling hina, bahkan tak jarang kata-kata kasar terlontar. Baru saja, sebelum menuliskan catatan singkat ini, saya membaca tulisan seorang saudara di akun twitternya.
Darinya, ada beberapa hal yang perlu disampaikan di sini terkait sikap seorang da’i dalam menghadapi orang-orang munafiq. Allah berfirman,
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”. (QS al A’raaf 199)
Mengomentari ayat ini, Sayyid Quthb, dalam Zhilal, berkata, ” Inilah arahan-arahan rabbaniyah di dalam menghadapi kejahiliyahan yang sangat buruk, di dalam menghadapi kemanusiaan yang tersesat. Arahan rabbani menyeru da’i untuk berlapang dada dan toleran. Juga supaya menyampaikan perintah dengan jelas untuk melakukan kebaikan yang sudah dikenal oleh fitrah manusia dengan lapang dengan tidak mempersulit dan tidak memperberat. Juga supaya ia berpaling dari tindak kejahiliyahan, dengan tidak menjatuhkan hukuman pada mereka, tidak mengajaknya/melayaninya berdebat, dan tidak ikut bersama-sama mereka”, ujarnya.
Apabila mereka melampaui batas dan menimbulkan kebencian dengan keras kepala dan menghalang-halangi, dan setan mengembuskan kebencian itu, maka hendaklah seorang da’i memohon perlindungan pada Allah agar hatinya tenang, tenteram, dan bersabar.
Sementara itu, Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, berkata, Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan dia menceritakan sebuah kisah mengenai Umar ketika salah satu tamunya membuatnya marah. Maka al Hur bin Qais berkata padanya, “Yaa amiral mu’minin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman pada nabi, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah dengan ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh’.”
Ibnu Jarir berkata bahwa sesungguhnya nabi telah memerintahkan agar dia menyuruh pada yang ma’ruf pada hamba-hambanya. Termasuk dalam yang ma’ruf itu adalah segala ketaatan, dan menyuruh berpaling dari orang-orang yang bodoh…
Mari tetap bersikap dingin menghadapi orang-orang munafiq. Sebab, Allah berkata bahwa memang seperti itulah tabiat mereka. Mereka akan tetap bersikap seperti itu hingga mereka mau mengubah apa yang ada dalam dirinya, yang kemudian berakibat pada turun tangannya Allah dalam mengubah hatinya, dalam mengubah sikapnya.
“Dan jika dikatakan pada mereka, “Marilah (kembali) pada apa yang diturunkan oleh Allah dan kepada rasulnya.” kamu pasti akan melihat orang2 munafiq itu menghalang2i kamu dengan keras”. (QS an Nisaa’ 61)
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada dalam qaum itu, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka”. (QS ar Ra’d 13)
Menghadapi mereka, Allah memerintahkan kita untuk memberikan “qaulan baliigha” pada mereka.
“Mereka itu adalah orang2 yang Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Krn itu, berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah pada diri mereka qaulan baliigha (perkataan yang membekas)”. (QS an Nisaa’ 63)
Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan qaulan baliigha itu? Untuk lebih mudahnya, mari kita simak nasihat Syaikh Utsaimin berikut ini. Beliau, dalam ash Shohwatul Islamiyyah, berkata bahwa bashirah, khususnya dalam da’wah itu ada tiga: pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah.
Yang pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Pengetahuan atau penguasaan atas ilmu. Yang ini jelas merupakan syarat da’wah pertama. Tidak perlu saya jelaskan lagi lebih jauh. Sebab apa lagi yang akan dijelaskan oleh seorang da’i selain ilmu mengenai Islam? Bukankah mereka yang tak memiliki sesuatu tak dapat memberikan sesuatu?
Mengenai hal ini, Syaikh Utsaimin berkata, Sebagian orang menghukumi sebagian perkara yang bukan merupakan kewajiban sebagai perkara yang wajib; dibangun dengan ijtihad yang keliru, ta’wil, dan syubhat yang tiada dasarnya. Apalagi menjadikan hal tersebut sebagai tolok ukur wala’ dan bara’! Apabila ia menjumpai seseorang yang berbeda pendapat dengannya, ia benci dan marah dengannya. Padahal pendapatnya sendiri telah menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Namun, apabila pendapat seseorang sesuai dengan pendapatnya, ia pun mencintainya.
Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Pengetahuan atas objek da’wah. Hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk berda’wah di Yaman. Saat itu, beliau bersabda, Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. (Muttafaqun ‘alaih)
Kata-kata ini tentu bukan tanpa maksud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan kita mengetahui objek da’wah sebelum berda’wah padanya. Kita patut mengetahui tingkat ilmunya, kemampuannya dalam diskusi maupun debat, dan sebagainya, supaya kita kemudian mampu mengambil hatinya dan mengajaknya pada Islam. Asy Syaikh kemudian mengutip sebuah hadis berikut, Sesungguhnya kalian akan saling mengalahkan di hadapanku, dan sebagian kalian lebih cerdas dalam mengemukakan pendapat daripada sebagian yang lain. Maka aku memutuskan perkara berdasarkan apa yang kudengar. Barangsiapa yang mengajukan perkara demi mengambil hak saudaranya, janganlah diambil. Sesungguhnya barangsiapa yang berhenti dari hal itu, terputuslah api neraka baginya. (Muttafaqun ‘alaih)
Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah. Pengetahuan atas da’wah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal mereka masing-masing”. (HR. Muslim).
Ini penting, sebab tidak semua manusia memiliki standar yang sama dalam menilai perkataan orang lain. Bisa jadi, karena kita membaca al Quran dan mendapati nabi Ibrahim yang merupakan khalilullah itu sampai menyebut ummatnya sesat dengan perkataan yang jelas itu (QS 21:54), lantas kita berbuat hal yang sama.
Perlu kita perhatikan kultur masyarakat yang berkembang. Jelas berbeda kultur masyarakat nabi Ibrahim dengan kultur masyarakat kita, meski model ma’shiyatnya sama saja. Sama-sama kesyirikan yang jadi masalah. Jelas berbeda kultur masyarakat Arab zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan budaya masyarakat Indonesia saat ini. Dahulu, ada sebuah qabilah yang nyaman saja disebut “bani kalb”. Tapi tentu itu tak tepat bila sebutan itu disematkan—dengan alasan apa pun—pada penduduk Indonesia. Dahulu ada sahabat yang lazim dipanggil Abu Hurairah. Tak pas pula rasanya bila panggilan ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kemudian kita sematkan pada tetangga kita yang menyukai kucing.
Untuk itu, Rasul kemudian memerintahkan kita untuk berbicara—dalam rangka berda’wah, tentu—menurut kadar akal objek da’wah. Semata supaya pesan da’wah ini tak tertinggal. Supaya maksud besarnya tak terpotong.
Ada sebuah kekhawatiran dari dalam diri saya melihat da’i yang mengabaikan rambu-rambu ini: akan ada perdebatan-perdebatan tak berkualitas yang secara perlahan tapi pasti akan menurunkan izzah para da’i di mata mad’unya. Akibatnya, belum satu kalimat terlontar dari lisan kita, keengganan mereka sudah muncul terlebih dahulu. Jadilah niat kita untuk berda’wah tak terlaksana.
Syariat ini perlu disampaikan. Salah satu wasilahnya adalah dengan cara beradu argumen (QS 16:125). Berdebat, dengan kata lain. Di sisi lain, kita mudah menjumpai ayat maupun hadis yang berisi anjuran untuk meninggalkan debat. Apalagi bila debat itu mempertanyakan hukum atau syariat Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah kebesaran mereka sekali-sekali tidak akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan pada Allah. Sesungguhnya Ia maha mendengar lagi maha melihat. (QS al Mu’min 56)
Namun, sekali lagi, penguasaan kita terhadap medan da’wah diuji di sini, di mana kita harus menempatkan diri kita di posisi pertengahan. Lembut dalam berda’wah memang dianjurkan. Tapi jelas tidak untuk setiap saat dan tempat. Serupa debat Ibrahim ‘alaihissalam muda dengan Namrudz. Atau seperti argumen-argumen Musa ‘alaihissalam di hadapan Fir’aun.
Janganlah kamu mengikuti orang2 yang mendustakan ayat2 Allah. Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (juga) padamu”. (QS al Qalam 8-9)

Menegaskan Keistimewaan Islam

islam23*) Qosim Nursheha Dzulhadi
Sebagai sebuah dīn (baca: agama) Allah memberikan berbagai keistimewaan kepada Islam. Ia merupakan satu-satunya agama yang diakui di sisi Allah (Qs. Āl ‘Imrāb [3]: 19). Untuk itu, siapa saja yang menjadikan selain Islam sebagai dīn, maka ia akan ditolak. Lebih menyedihkan lagi, para penganutnya akan masuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi di akhirat (Qs. Āl ‘Imrān [3]: 85).
Untuk itu, umat Islam dituntut untuk berjuang penuh dalam mempertahankan dīn yang benar (dīn al-ḥaqq) ini. Salah satunya adalah dengan berpegang-teguh kepada Al-Qur’an (Qs. Āl ‘Imrān [3]: 103), yang disebut oleh Allah dengan “tali Allah
(ḥabl Allāh). Keistimewaan ini benar-benar menjadi anugerah yang dijelaskan untuk umat ini di dalam sumber undang-undang dan hukum kehidupannya, Al-Qur’an: kitab suci yang mencakup seluruh lini kehidupan, disamping sebagai “batu ujian” bagi kandungan kitab-kitab sebelumnya (Qs. al-Mā’idah [5]: 48).
Sebagai agama terakhir – sekaligus Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir bagi manusia – Allah berjanji untuk ‘menjaga’ dan memeliharanya, agar tidak mengalami distorsi (al-taḥrīf) sebagaimana yang terjadi terhadap kitab-kitab sebelumnya (Qs. al-Ḥijr [15]: 9). Karena agama ini terpelihara dan terjagi dari berbagai distorsi dan interpolasi itu, ia menyeru kepada seluruh manusia untuk menjadikannya sebagai panduan hidup dan kehidupan yang terbaik. Disini kemudian menjadi nyata mengapa umat Islam disebut oleh Allah sebagai khaira ummah (umat terbaik) yang “dilahirkan” oleh Allah bagi seluruh manusia (Qs. Āl ‘Imrān [3]: 110), dengan syarat mereka melakukan dua hal penting: melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.
Keistimewaan lain yang dimiliki oleh Islam adalah dia merupakan agama seluruh para nabi dan rasul Allah (Qs. al-Syūrā [42]: 13). Artinya: sejak zaman nabi Adam as. hingga Rasulillah Saw. agama yang dibawa dan disampaikan kepada manusia adalah ‘Islam’. Dan inti dari Islam itu adalah ‘Tawhid’ (mengesakan Allah Swt. dalam nama-Nya, dalam sifat-Nya, dalam pekerjaan-Nya). ‘Alī ibn Abī Ṭālib mengomenari realitas ini dengan menyatakan, “Iman sejak diutusnya Adam as. adalah syahadat (kesaksian) ‘La ilaha illa Allah’ (Tidak ada tuhan selain Allah) dan iman kepada apa yang turun (datang) dari sisi Allah. Dan, setiap kaum (umat) diberikan syariat (hukum) dan minhaj (jalan menuju hukum itu).”
Menegaskan hal itu, Rasulullah Saw. menyatakan, “Aku adalah orang yang paling berhak atas ‘Isa ibn Maryam di dunia dan di akhirat. Pada nabi adalah bersaudara meskipun ibu mereka beda, tetapi agama mereka satu.” (HR. al-Bukhārī). (Lihat, Dr. Mu‘ādz ibn Muhammad Abū al-Futūḥ al-Bayānūnī, al-Ta‘addudiyyah al-Da‘wiyyah (Kairo: Dār Iqra’ li al-Nasyr wa al-Tawzī‘, cet. I, 1427 H/2006 M), hlm. 19, 20).
Namun demikian, Sayyid Quṭb (w. 1966) menegaskan bahwa Islam yang berfungsi sebagai manhaj ilahi itu diwujudkan oleh “Islam” dalam wujudnya yang final sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Meskipun ia tidak dapat direalisasikan hanya dengan kata “kun”. Ia pun takkan dapat membumi hanya gara-gara disampaikan dan dijelaskan kepada manusia. Pun tak dapat diejawantahkan dengan paksaan Tuhan seperti edaran hukumnya di dunia benda-benda langit. Ia dapat berfungsi sebagai dīn lewat usaha maksimal kelompok manusia. Dan usaha itu wajib “diwarnai” dengan keimanan penuh, konsistensi – sesuai kemampuan – dan berusaha untuk “membumikannya” dalam hati manusia dan kehidupannya. (Sayyid Quṭb, Hādzā al-Dīn (Kairo: Dār al-Syurūq, cet. XIV, 1412 H/1992 M), hlm. 9).
Kalau begitu, berarti hanya Islam sajalah yang layak disebut sebagai al-dīn al-ḥaqq (agama yang benar) dan selain Islam adalah batil (Qs. Āl ‘Imrān [3]: 19, 85 dan Qs. al-Bayyinah [98]: 5). Hal ini karena agama Islam ini adalah dīn al-fiṭrah: sesuai dan sejalan dengan fitrah manusia. Di atas fiṭrah ini lah seluruh manusia diciptakan oleh Allah (Qs. al-Rūm [30]: 30). Nabi Saw. pun menegaskan hakikat fiṭrah ini bahwa, “Tidak ada seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fiṭrah (suci-bersih), kedua orangtuanyalah yang kemudian menjadikan bayi itu menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi. Hal ini seperti seekor binatang ternak yang melahirkan anak yang sempurna fisiknya. Apakah kalian mendapati binatang yang dilahirkan itu cacat (tidak sempurna)?” (HR. al-Bukhārī).
Itu sebabnya Allah Swt. memerintahkan umat ini untuk menjaga dan memelihara dīn ini dengan maksimal. Bahkan, bila perlu dengan jalan jihad di jalan Allah (Qs. al-Anfāl [8]: 39). Selain Allah juga memberikan wanti-wanti agar umat Islam tidak berpecah-belah dan tidak berselisih dalam menjalankannya (Qs. al-Syūrā [42]: 13). Bahkan, “negosiasi” dalam masalah akidah tidak dibenarkan bagaimana pun kondisinya (Qs. al-Kāfirūn [109]: 1-6).
Semoga kita dapat mengaplikasikan Islam dalam realitas kehidupan. Dan, kita dapat mendakwahkannya sekaligus mempertahankannya secara istiqāmah. Wallāhu waliyyut-taufīq.
*) Penulis adalah guru di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan. Menulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia” (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2012) dan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sumatera Utara. Dapat dihubungi melalui: kang.qosim@gmail.com